March 2008 - Wisata Kuliner Indonesia

Sunday, March 23, 2008

Kuliner 49 - RM Bakut, Samarinda
March 23, 2008 6 Comments
Siang harinya (11/3), saya minta untuk diantarkan ke tempat makan yang menyajikan masakan khas dari Kalimantan, maka meluncurlah kami ke RM BAKUT, rumah makan yang menyajikan masakan khas Banjar-Kutai. Kata Bakut sendiri memang singkatan dari Banjar Kutai. Ketika daftar menu diberikan, saya langsung menanyakan masakan yang khas dan spesial dari tempat makan ini. Salah satunya Ikan Bakut yang sayangnya sedang kosong ketika itu. Berikut beberapa sajian yang akhirnya kami pilih...



Ikan Pepuyu Bakar. Nemu lagi satu ikan yang cukup asing di telinga saya, atau mungkin juga di telinga para pencinta kuliner di Pulau Jawa. Ikan Pepuyu ini sepintas mirip ikan sepat, tapi dagingnya jauh lebih tebal. Tekstur dagingnya sangat lembut dan keharumannya menggoda. Dengan bumbu bakar kecap sederhana, ikan pepuyu ini benar-benar memanjakan indera pengecap kita. Sayang, nilai minus ikan ini adalah durinya yang buanyak, sehingga butuh effort sedikit ekstra untuk memakannya dan perlu turun dua tangan agar dapat menyisihkan duri-durinya. Di luar itu... Juara!


Ikan Pepes Patin. Ikan patin dengan dagingnya yang tebal dan lembut banyak kita jumpai di Palembang, Pekanbaru dan di banyak kota lainnya, saat ini. Tapi ikan pepes patin tentunya jarang bisa kita temukan di tempat lain, tapi jangan salah, pepes disini tidak seperti pepes pada umumnya yang dimasak dengan cara dikukus dalam daun. Pepes yang saya temui disini bumbunya lebih seperti bumbu mangut, kalo di Jawa, dan dimasak tanpa bungkusan daun pisang seperti pepes pada umumnya. Rasa yang kaya dengan dominasi asem pedas, memang membuat ikan patin di RM Bakut ini berbeda dengan yang lain. Sangat direkomendasikan.



Sayur Asam Tulangan. Ini juga unik, sayur asem ini jauh berbeda dengan sayur asem yang kita kenal. Bumbu kunyit menyebabkan warna kuning pada kuah sayur ini yang memiliki rasa asem pedas, minus rasa manis. Potongan tulang sapi yang masih dibalut urat dan daging tipis turut menambah rasa gurih dari sayur ini.

Es Buah Bakut. Untuk dessert anda bisa mencoba es buah bakut. Tidak terlalu spesial memang, hampir mirip dengan es teler biasa. Potongan melon, alpukat, nanas, kelapa muda dan lain-lain dipadukan dalam air susu dan sirup merah yang segar.

Bara-Bara Bakut. Nah, ini yang juga unik. Ketika menanyakan ke pramusaji, dia hanya mengatakan bahwa ini adalah campuran air jeruk manis. Saya sendiri tidak menanyakan lebih jauh campuran dengan apa. Setelah tersaji di meja dan airnya mulai membasahi rongga mulut saya, baru saya sadari terdapat rasa yang menggelitik dari minuman ini. Semacam soda, tapi saya menduga ini adalah campuran dengan minuman green sands. Rasanya memang jadi unik dan menyegarkan. Saya bahkan sedikit curiga ini campuran dengan bir, ya mudah-mudahan bukan deh.....

Rumah Makan BAKUT
Masakan khas Banjar Kutai
Jl. Awang Long No.22 Samarinda
Telp 0541-205388

Reading Time:
Kuliner 48 - Kepiting Asam Manis Special, Hary Crab, Samarinda
March 23, 20081 Comments
Tanggal 10 Maret 2008 merupakan keberangkatan pertama saya kaluar kota di tahun ini. Tepat seminggu setelah kelahiran anak kedua, saya harus terbang ke Samarinda. Setelah mengalami delay selama 2 jam, pesawat yang saya tumpangi akhirnya landing di Balikpapan pukul 11.25 WITA, kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan taksi ke Samarinda. Wisata kuliner saya mulai malam harinya dengan mengunjungi Hary Crab, tempat makan sea food yang berlokasi di Jl Pahlawan, tepetnya di sudut pertigaan dengan Jl. Kulintang. Berikut sedikit coretan tentang sajian di tempat makan ini...


Kepiting Asam Manis Special, adalah menu special di Hary Crab. Kepiting yang sudah dipotong-potong dimasak dalam kuah asam manis yang kental. Bumbunya tidak seasam dan semanis bumbu asam manis yang biasanya kita temui di tempat makan di Pulau Jawa, tapi justru inilah letak kelezatan dan keunikannya. Nilai plus yang utama adalah kepiting yang disajikan adalah kepiting telur, telur kepiting yang merah membaur dalam daging kepiting putih yang tebal. Konon, kalau bulan tidak terang (bukan bulan purnama) maka lebih mudah untuk mendapatkan kepiting telur dibanding kepiting biasa. Harga per porsi Rp.50.000,-


Ikan Trekulu Goreng. Di setiap daerah sering saya temui jenis ikan yang baru, demikian pula di Kota Samarinda ini. Di deretan menu, teman saya tertarik untuk mencoba Ikan Trekulu. Seekor ikan panjang dan besar segera tersaji meja kami dengan didampingi sambal terong. Daging ikannya gurih, layak untuk diganjar dengan selembar uang 50ribu-an.

Pulangnya, mampir dulu ke tepian sungai Mahakam untuk menikmati Durian Melak, durian khas dari Kalimantan Timur. Sambil menikmati aliran sungai Mahakam, aroma buah durian khas dengan cepat menyergap indera pengecap kita. Tapi hati-hati, walau tertulis angka Rp.5000, tapi harga itu hanya ditujukan pada buah durian yang paling kecil dan masih mentah. Untuk durian yang matang, paling tidak kita harus mengeluarkan uang antar 15-25ribu rupiah satu butirnya.

Dan hati-hati juga, setelah makan kepiting & kerang, dilanjutkan dengan durian, tentunya angka kolestrol di tubuh kita mungkin akan meningkat. Tinggal pinter-pinternya kita mengatasinya :))

Reading Time:

Saturday, March 1, 2008

Kuliner 47 - Nasi Bancakan, Bandung
March 01, 2008 11 Comments
Kalau Resto "Bumbu Desa" sukses mengusung slogan masakan kampung masuk kota dengan tempat makan yang modern, di Bandung sekarang muncul rumah makan sunda yang bener-bener "kampungan". Tidak hanya makanan yang menonjolkan cita rasa Sunda jaman dulu, seluruh suasana dan interior juga disetting sangat "kampungan". Suasana ini langsung menyergap kita ketika kita menginjakkan kaki masuk ke restoran ini. Mang Barna, salah satu pemilik resto ini selain Bi Oom, dengan pakaian "kebesarannya" dengan ramah akan menyapa kita di pintu depan. Dinding restoran tidak dihiasi oleh lukisan atau poto-poto artistik, tetapi ditempeli berbagai poster mulai dari poster india, band-band indonesia masa kini, dangdut, rolling stone, dan lain-lain. Poster-poster ini diseling dengan lukisan pemandangan yang memperkuat image kampungan yang sedang dibangun. Wajah Bung Karno juga muncul dalam kalendar yang dipasang di dinding. “Anu penting mah, aya gambar na pak SBY pamingpin urang jeung wakil na cep" (yang penting ada gambar Pak SBY, pemimpin kita dan wakilnya, Mas), “ ujar mang Barna pada Jurnal Indonesia mengenai poster-poster yang dipajang di warungnya. Memang beliau tidak lupa memasang poto pemimpin kita, pernah anda perhatikan berapa banyak tempat makan yang memasang poto presiden RI? :)) Jadi, dimana kita bisa menemukan resto yang unik ini?


Nasi Bancakan, demikian nama "warung" ini. Berlokasi di Jl. Trunojoyo no. 62 Bandung, bersebelahan dengan resto Sambara, berjarak sekitar 300 meter dari Gedung Sate. Makanan yang disajikan di Nasi Bancakan ini tentunya khas sunda, tetapi dengan beberapa pilihan masakan unik jaman baheula, yang jarang ditemuin di tempat lain. Selain makanan standar seperti ayam goreng, sayur asem, perkedel, aneka pepes dan lain-lain, kita juga bisa menemukan makanan yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, sebut saja ceos kacang merah, gejos cabe hejo, hampas kecap, tumis lember, tumis kadedemes, tumis suung dan masih banyak yang lain. Untuk nasi, kita bisa memilih Nasi Liwet atau Nasi Daun. Harga? Relatif sangat terjangkau, mulai dari 500perak (krupuk aci) sampai 7000perak (cumi oli). Rata-rata 5000perak lah...

Oh iya, makanan-makanan tersebut disajikan dalam "baskom" seng putih dengan corak bunga-bunga, oldies banget lah. Tidak cukup dengan itu, kita pun akan memakan makanan itu diatas piring seng dan gelas seng yang mungkin sekarang udah gak ada yang jual lagi. Acung dua jempol untuk totalitas dalam membangun image kampungan di resto ini.

Buat minum saya pilih Es Kopi Nyereng (1500perak). Kopi hitam dengan susu kental manis, dibanjur air soda dan es. Rasanya? bener2 unik, saya belum pernah menemui tempat makan yang menyajikan menu itu. Atau bisa juga pilih Bandrek, minuman khas sunda berbahan dasar jahe. Hangatnya sampe ke badan.


Dan untuk dessert, tersedia kue balok. Apa itu? Kue jadul yang mirip dengan pukis, tetapi uniknya dimasak dengan arang (atas dan bawah), kehangatan dan kematangannya merata di seluruh kue. Gak usah banyak cerita, langsung aja meluncur ke warung Nasi Bancakan, dan anda akan menemukan sensasi tersendiri. Tapiiii (mengutip spanduk yang terpampang besar di ruang tengahnya), "Omat... lamun dahar lima ulah ngaku hiji, da Gusti mah Maha Uninga, sing karunya ka emang, hehehe" (Ingat... kalau makan lima jangan bilang satu, Tuhan Maha Mengetahui, kasihan dong sama Mang Barna, hehehe)


Kuliner di Kota Bandung lainnya silakan klik disini
Reading Time:

@way2themes