Wisata Kuliner Indonesia

Friday, January 24, 2020

Kuliner Jogja - Kopi Klotok
January 24, 20200 Comments

Nama tempatnya Kopi Klotok, tapi ini bukanlah warung kopi tapi sebuah resto sederhana yang sajikan menu yang tak seberapa banyak pilihannya, aneka lodeh, sayur asem, telor dadar krispi, tahu bacem dan tempe garit. Walau dengan pilihan menu terbatas, antrian di sini panjang mengular. Orang memang banyak merindukan cita rasa rumahan seperti yang dulu ibunda sajikan di rumah, terlebih memang rasa lodehnya yang tidak hanya memanjakan lidah tapi juga memanjakan kenangan kita

Puluhan mobil terparkir di sekitaran tempat makan yang berada di kawasan Jl. Kaliurang - Jogja ini. Rumah tradisional berbentuk joglo menyambut para pelanggan yang tidak berhenti keluar masuk dari pintu depannya. Ya, ini adalah kali pertama saya mengunjungi Kedai Kopi Klotok, yang cukup banyak diperbincangkan orang sebagai salah satu destinasi kuliner Jogja yang perlu disambangi. Begitu masuk rumah, nuansa jadoel begitu terasa, baik dari bangunannya maupun dari ornament yang disimpan di dalamnya. Dan ada satu hal yang cukup bikin saya terkejut: antrian yang tampak mengular berujung di satu meja tak seberapa besar dengan pilihan menu yang tak banyak

Dalam antrian semua orang tampak sabar menanti giliran mengambil nasi beserta lauk sederhana yang terhidang di sebuah meja kecil. Tak banyak pilihan lauk yang tersedia: lodeh terong, lodeh kluwih dan lodeh tempe lombok ijo. Ada antrian di sudut yang lain untuk mengambil telur goreng krispi dan tempe garit. Oh ya, ada sambal dadak juga yang harus ditambahkan ke dalam piring anda. Dengan menu yang begitu sederhana, mengapa tempat ini banyak banget yang mengunjungi? Karena rasa otentik yang dihadirkan memang sangat lezat, apalagi buat lidah saya yang ndeso dan njowo ini. Lodeh dengan cita rasa gurih dengan semburat tipis rasa manis, berpadu dengan gurihnya tempe garit dan renyahnya telur dadar krispi yang sangat khas. Sambal menjadi pelengkap yang membuat hidangan ini paripurna dengan tingkat kepedasan yang moderat. Konon pisang gorengnya pun layak dicoba, tapi sayangnya menu ini saat itu belum tersedia


Pengunjung bisa memilih duduk di dalam rumah atau lesehan di tepi sawah beralaskan tikar. Angin sejuk semilir berhembus dari pesawahan yang mengitari tempat makan ini. Untuk harga makanannya pun saya yakin bakal bikin orang Jakarta gumun alias terheran-heran. Nasi putih (free flow) dihargain 3500 rupiah aja, aneka sayur lodeh dan sayur asem pun bisa kita ambil sepuasnya dengan harga 6500 rupiah. Tahu bacem cukup ditebus 3500 per potongnya, dan tempe garit pun cuma 1500. Telur krispy-nya dihargai 5500/potongnya.


Untuk minumnya saya pilih Teh Tubruk Gula Batu yang disajikan dalam gelas besar, seharga 6500. Dan tentunya kita juga dapatkan suasana perkampungan di tepi sawah yang priceless....

Buka dari jam 7 pagi sampai 10 malam, disarankan untuk mengunjungi Kopi Klotok ini sepagi mungkin, karena semakin sore lauk yang tersedia pun semakin sedikit pilihannya. Jangan sampai udah sampe sini kamu kehabisan sayur lodehnya, mendingan balik kanan deh, rugiiiii….

Wisata Kuliner Indonesia #429
Kuliner Jogja
Kopi Klotok

Jl. Kaliurang KM 16, Sleman - Jogja




Reading Time:

Saturday, December 28, 2019

Kuliner Jogja - Lopis Mbah Satinem
December 28, 20190 Comments

Dengan ritme yang tetap, Mbah Satinem melayani permintaan para pelanggannya yang setia mengantri untuk jajanan pasar yang dijajakan: tiwul, ketan, cenil, gatot dan andalannya Lopis. Tekstur kenyal lopisnya memang memanjakan penikmatnya, ditimpali dengan taburan parutan kelapa dan guyuran gula merah cair, menghapuskan rasa lelah dan penat setelah mengantri cukup lama

Jika Anda merupakan pelanggan layanan TV berbayar Netflix, mungkin pernah melihat ringkasan atau bahkan menonton salah satu serial dokumenternya: Street Food, Sebuah mini seri dokumenter yang memotret beragam jajanan kaki lima di kota-kota di Asia Tenggara. Untuk street food dari Indonesia, salah satu episode serial ini mendokumentasikan jajanan kaki lima di kota Jogja dengan sorotan utama jatuh pada Jajanan Pasar Mbah Satinem dan Gudeg Mbah Lindu. Dikemas secara apik, serial ini memang menggugah selera para penontonnya untuk ikut mencicipi sajian yang ditampilkan. Termasuk saya yang tergiur dengan sajian Jajanan Pasar Mbah Satinem ini.

Reading Time:

Tuesday, September 10, 2019

Kuliner Medan - Rumah Makan Pondok Gurih
September 10, 20191 Comments
Gulai Kepala Ikan RM. Pondok Gurih
Ada dua signature menu di RM. Pondok Gurih Medan ini: Gulai Kepala Ikan dalam kuah gulai daun singkong yang bikin gelap mata sejak suapan pertama dan Ayam Goreng dengan tingkat kekeringan dan kerenyahan yang begitu manjakan semua syaraf di rongga mulut kita. Dan juga, jangan lupa pesan nasinya dibungkus, walau makan di tempat. Kenapa?


Sebuah siang di kota Medan membuat saya merasa harus mengisi rongga perut saya yang mulai terasa lapar. Dan di Medan, selalu membuat saya kesulitan kalau urusan makanan. Bukan karena kuliner Medan tidak enak atau terbatas, tapi justru karena kuliner Medan itu selalu memicu air liur dengan varian pilihan yang sangat beragam, mulai dari aneka mie, soto medan, kudapan, seafood dan sebagainya. Dan setelah berkontemplasi sesaat, akhirnya saya memilih makan siang di salah satu rekomendasi teman saya: Rumah Makan Padang Pondok Gurih. Hey, ngapain di Medan makannya makanan padang?

Reading Time:

Saturday, August 10, 2019

Kuliner Solo - Tengkleng Klewer Ibu Edi
August 10, 20191 Comments

Potongan iga, kaki, mata, telinga, lidah, usus, daging, babat, pipi, lidah, sumsum, sampai otak kambing semua siap terhidang dalam panci besar, disajikan dalam pincuk daun pisang, diguyur dengan kuah tengkleng segar dengan sedikit cubitan rasa pedas dari lombok rawit yang juga hadir dalam menu ini. Tengkleng Klewer Ibu Edi memang menjadi destinasi wajib untuk kuliner Solo

Siang itu, mendung tampak menggelayut di langit kota Solo, membuat udara agak sedikit sejuk walau mentari berada posisi tepat di tengah peraduannya. Rasa lapar pun tak terasa menghampiriku, sembari berpikir kuliner apa yang menarik untuk dijajal di kota ini. Sekelibat kata "tengkleng" melintas di benakku, yang langsung mencari jejak tengkleng legendaris di kota ini. Tengkleng Klewer Ibu Edi menjadi "top of mind" banyak warganet ketika berbicara tengkleng solo, terbukti dengan banyaknya yang merekemondasikan tempat ini ketika saya mencari tengkleng di Solo. Berlokasi di kawasan Pasar Klewer yang ternyata tidak jauh dari tempat saya menginap, Hotel Royal Heritage Surakarta. Pasar Klewer ini hanya berjarak sekitar 550 meter saja dari hotel ini. Langsung saya bergegas menuju Tengkleng Klewer Ibu Edi untuk mencicipi legenda rasanya.

Reading Time:

Monday, June 3, 2019

Kuliner Jogja - Gudeg Mbah Lindu (sejak 1940)
June 03, 20190 Comments

Gudeg yang disajikan gudeg basah dengan cita rasa manis, dipadu dengan sambal krecek dengan cubitan rasa pedas yang pas. Tambahkan ayam pejantan atau telur bulat yang diberi sentuhan bumbu senada, memperkuat rasa gudeg yang menggoda. Nikmati bersama nasi hangat atau bubur beras, maka sarapan pagi ini terasa istimewa. Konsistensi Mbah Lindu menjajakan gudeg puluhan tahun sejak zaman kolonial, membuat racikan gudegnya memang menjadi magnet para pecinta kuliner khas Jogja yang satu ini.

Matahari baru menyingsing, tapi Ibu Ratiah sudah mulai mempersiapkan lapak jualannya di Jl Sosrowijayan, Yogyakarta. Gudeg, krecek, ayam, telur, nasi, bubur dan lainnya dia hamparkan di kedai kecilnya, hasil olahan beliau bersama sang bunda, Mbah Lindu. Ya, Mbah Lindu sendiri sudah tidak turut lagi menjajakan gudeg, karena keterbatasan fisiknya yang tahun ini sudah mencapai usia 1 abad alias 100 tahun! Mbah Lindu sudah memasak dan menjajakan gudeg sejak usianya masih belasan di zaman kolonial Belanda, dan tidak pernah berhenti sampai di usia senjanya saat ini. Dalam 2-3 tahun terakhir saja, Mbah Lindu tidak lagi langsung melayani pelanggannya, digantikan oleh salah seorang putrinya, Ibu Ratiah, tapi untuk memasak beliau masih ikut turun ke dapur. Mengapa beliau bisa bertahan selama itu berjualan gudeg?

Reading Time:

Saturday, June 1, 2019

Kuliner Jogja - Sate Sor Talok
June 01, 20191 Comments

Tekstur daging yang empuk dihasilkan oleh proses pembakarannya yang menggunakan jeruji besi. Sifat besi sebagai konduktor, mengalirkan panas ke dalam yang membuat daging matang luar dalam. Akan tetapi berbeda dengan sate klatak, sate Sor Talok disajikan tanpa tusuk satenya dan bumbunya menggunakan bumbu kecap manis dengan aroma rempah yang menggiurkan. Dagingnya yang empuk dan tanpa lemak perlu mendapat predikat juara


Penjaja sate kambing tentunya banyak hadir di setiap kota di Indonesia, termasuk di Jogja. Tapi ada satu tempat yang direkomendasikan banyak pecinta kuliner, karena tidak hanya enak, proses memasak dan penyajiannya pun berbeda dengan yang lain. Sate Sor Talok, itu nama tempatnya. Apa yang membuatnya berbeda? Pertama, potongan daging yang disiapkan cukup besar, tidak dalam potongan kecil layaknya sate kambing yang banyak kita temukan. Kedua proses memasaknya menggunakan jeruji besi untuk menusuk daging kambingnya ketika dibakar. Sifat besi sebagai konduktor, mengalirkan panas ke dalam yang membuat daging matang luar dalam. Dan Ketiga adalah penyajiannya, disajikan tanpa tusuknya kita disodori sepiring potongan daging kambing tanpa lemak hangat nan empuk, ditemani dengan bumbu kecap dengan tomat, potongan bawang merah dan cabe rawit. Nasi hangat yang disajikan dalam bakul membuat hidangan makan siang kali ini terasa begitu sempurna. Oh ya, daging kambing di sini memang terkenal enak karena tidak bau prengus, plus empuk. Tampaknya selain proses memasak yang paripurna, pemilihan daging untuk dihidangkan juga melalui proses quality control yang baik.
Reading Time:

Friday, May 31, 2019

Kuliner Jogja - Rujak Es Krim Pak Nardi
May 31, 20191 Comments

Rujak serut dengan aneka buah segar dengan kuah rujak yang asam manis dengan sedikit cubitan rasa pedas, ditimpali dengan topping es puter kelapa, maka jadilah sebuah sajian Rujak Es Krim Pak Nardi yang hadirkan semangkuk kesegaran hakiki, layaknya oase di tengah teriknya kota Jogja siang hari ini.


Hari itu jam 13.00, selepas saya menikmati makan siang di Sate Sor Talok - Bantul, Jogja tengah dianugerahi curah sinar matahari yang sangat berlimpah. Teriknya memang membuat AC mobilpun harus dipasang dengan setting yang cukup dingin. Maka sajian dingin nan menyegarkan langsung terlintas di benak saya untuk melawan panasnya kota Jogja ini. Rujak Es Krim Pak Nardi yang berada di kawasan Pakualaman tentunya menjadi sebuah pilihan yang perlu dipertimbangkan. Eh apa itu Rujak Es Krim? Ya sesimpel namanya, ini memang perpaduan antara rujak dan es krim. Rujaknya rujak serut, dimana kita bisa temukan serutan belimbing, mangga, nanas, bengkoang dan sebagainya di dalam kuah rujak yang asem dan manis, tentunya dengan cubitan rasa pedas khas rujak serut. Setelah rujak ini dituang di dalam mangkok, berikutnya es krim (es puter) kelapa dituangkan di atas rujak ini. Es krimnya buatan rumahan alias home made, terasa dari gula yang digunakan tidak membuat tenggorokan terganggu, pun teksturnya yang lembut membuatnya berbeda dengan es puter yang biasa kita temukan di tempat lain. Lalu bagaimana paduan rasa dari Rujak dan Es Krim ini?

Reading Time:

@way2themes