Monday, June 9, 2014

Kuliner Pekalongan - Ayam Karang Menanci


Wisata Kuliner Indonesia #322
Ayam Karang Menanci
RM. Panderasa Jl.Imam Bonjol 47 Pekalongan
Telp: 0285 423763


Begitu menggigit menu makan malam saya di Pekalongan kali ini, langsung saya merasa ada yang "gak beres" dengan sajian yang satu ini. Daging ayamnya begitu empuk tapi tidak hancur, dengan bumbu kaya rempah yang meresap sampai ke tulang dan mengeluarkan semburat rasa manis yang pas berpadu dengan sedikit cubitan pedas dan rasa gurih yang benar-benar memanjakan indera pengecap. Walau saya tidak bisa memasak, tetapi ketika menikmati Ayam Karang Menanci, salah satu signature di RM Panderasa, saya tahu bahwa proses memasak dan bumbu yang digunakan untuk meraciknya pasti "beneran", tidak main-main. Konon, Ayam Karang Menanci adalah salah satu resep kuliner khas Pekalongan yang sudah hampir punah dan coba dibangkitkan lagi oleh rumah makan ini. Dan buat saya, suatu keberuntungan dapat mencicipi salah satu warisan kekayaan kuliner Nusantara yang "indah" ini. Dan tidak hanya itu saja, ada satu lagi keberuntungan yang saya dapatkan malam itu: bertemu langsung dengan sang pemilik resep Ayam Karang Menanci dan juga pengelola RM Panderasa ini!

Foto bareng Ibu Martha dan putrinya Farah Rachman
"Resep ini saya dapatkan turun temurun, dan dari beberapa saudara saya, kayaknya hanya saya yang paling pas meracik resep yang ada sehingga menjadi sajian Ayam Karang Menanci ini", demikian tutur Ibu Martha, pemilik resep yang masih terjun langsung tiap harinya memasak sajian ini untuk RM Panderasa. Konon awalnya resep Ayam Karang Menanci ini merupakan paduan dari masakan dengan cita rasa Arab dan India yang dibawa para pedagang asal dua kawasan tersebut ke Pekalongan, yang kemudian diselaraskan dengan bumbu-bumbu yang tersedia di sini. Bu Martha menambahkan: "Ayam Karang Menanci ini memang dimasak dengan aneka rempah-rempah sehingga menghasilkan cita rasa istimewa. Sehingga tidak cuma enak, Ayam Karang Menanci ini juga dapat menghangatkan dan meningkatkan vitalitas tubuh!" Wow....
Dan dugaan saya tentang proses memasak yang "tidak main-main" pun terbukti, ternyata butuh waktu semalaman untuk memasak sajian ini mulai dari proses pembumbuan, kemudian diungkep sampai proses memasaknya yang masih menggunakan kayu bakar. Entah mengapa, proses memasak menggunakan kayu bakar memang selalu menghasilkan sajian masakan yang lezat dengan cita rasa yang kuat, seperti di Ayam Karang Menanci ini. Tak heran, bumbunya begitu meresap sampai ke tulang, bahkan kalau gak malu, saya masih ingin menjilati tulang-tulangnya hehehe.

Farah Rachman, pengelola RM Panderasa yang juga putri dari Ibu Martha, berharap bahwa Ayam Karang Menanci ini kelak dapat menjadi salah satu ikon kuliner kota Pekalongan selain Soto Tauto atau Nasi Megono yang sudah lebih dahulu kesohor. "Ke depan kami juga akan mengembangkan Ayam Karang Menanci sebagai sebuah oleh-oleh kuliner khas Pekalongan dengan membuat kemasan khusus, sehingga semakin banyak orang yang dapat menikmatinya". Setuju, dan kalau sudah jadi saya bakal pesan untuk dikirim ke rumah! :)

Jadi kalau berkunjung ke Pekalongan, jangan lupa luangkan waktu untuk berbelanja batik dan menikmati Ayam Karang Menanci...


Kuliner lain di kota ini:



1 comment: