March 2010 - Wisata Kuliner Indonesia

Tuesday, March 30, 2010

Kuliner 120 - Gonggong, Tanjung Pinang
March 30, 2010 4 Comments
Melayu Square - Tanjung Pinang

Gonggong... Pertama kali tahu nama ini dari teman saya yang komen di status FB saya sebelum terbang ke Tanjung Pinang. "Jangan lupa makan gong gong" begitu pesannya, makanan apaan tuh? Namanya koq gak menjual gitu sih hehehe. Ternyata ini adalah salah satu sea food yang khas di Kepulauan Riau, khususnya di Tanjung Pinang. Dimana ada yang jual sea food disitu pasti ada gonggong. Gonggong ini sejenis siput laut yang hidup di perairan sekitar Kepulauan Riau, dimasaknya hanya direbus kemudian dicocol dengan sambel. Tiap tempat biasanya menyediakan jenis sambel yang berbeda, tapi buat saya yang paling cocok adalah sambel kacang dengan cita rasa asam manis. Banyak yang bilang rasanya mirip kerang rebus, tapi buat saya gonggong jauh lebih enak. Ujungnya seperti daging cumi, kenyal dan sedikit alot, tapi diujung lainnya dapat kita temukan dagingnya yang lembut.


Cara makannya pun cukup unik. Kita akan dibekali dengan tusuk gigi, kemudian kita korek bagian dalam gonggong ini, tarik keluar dan daging gonggong yang sedap tinggal kita colek ke sambal kacangnya. Mantabbbb.... Tapi hati-hati, di ujung luarnya ada bagian yang keras seperti kuku, konon ini alat gonggong untuk berjalan, yang tidak bisa kita makan. Saya mencoba gonggong ini sampai dua kali di dua tempat yang berbeda, salah satunya di Melayu Square. Gonggong di pusat jajanan serba ada ini relatif besar-besar, sehingga menyantapnya pun terasa maremmmm. Seporsi cukup ditebus dengan harga Rp. 20.000,- yang berisi lebih dari 20ekor gonggong. Walau cuman untuk appetizer tapi satu porsi gonggong sudah cukup mengenyangkan koq.

Selain Gonggong, seperti layaknya kota pinggir pantai, Tanjung Pinang juga menyediakan beragam makanan seafood segar nan lezat. Saya tak lupa untuk memesan favorit saya KEPITING yang kali ini saya minta di bumbu Asam Manis. Ternyata rasanya luarrrr biasssaaa, walaupun belum sedahsyat Kepiting Kenari di Samarinda, tapi bumbunya bener-bener te-o-pe. Asam manisnya diberi campuran telur ayam yang menambah kegurihan dan cita rasa bumbu ini plus daging kepiting segar dan gemuk menjadikan makan malam saya hari ini 'sempurnaaaa....'. Kepiting Asam Manis ini harus ditebus dengan harga Rp. 50.000,-


Melayu Square sendiri merupakan pusat makanan (food court) yang terletak di pinggir pantai. Berlokasi di alam terbuka, kita bisa menemui berbagai kuliner khas Tanjung Pinang di tempat ini. Mayoritas menjual makanan laut, tapi banyak pula yang menjajakan makanan non seafood. Yang jelas, kalo berkunjung ke Tanjung Pinang, Melayu Square merupakan alternatif tempat makan yang harus dikunjungi. Terutama buat anda yang penasaran dengan yang namanya Gonggong....
Reading Time:

Monday, March 29, 2010

Kuliner 119 - Sego Pecel, Jogja
March 29, 2010 5 Comments
SGPC Bu Wiryo 1959
Jl. Agro CT VIII Klebengan, Yogyakarta
Telp: 0274 512288


PECEL, salah satu kuliner khas dari Jawa Tengah dan Jogja. Kumpulan sayur yang telah direbus, biasanya terdiri dari tauge, kangkung, bayam, kacang panjang dan lain-lain diguyur oleh bumbu pecel khas yang terbuat dari kacang. Hmmm yummmiiii.... Di Kota Jogja ada satu tempat legendaris yang menjual kuliner khas ini, berlokasi di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada. Namanya: SGPC Bu Wiryo 1959, SGPC sendiri merupakan singkatan dari kata Sego Pecel (Nasi Pecel). Adonan Bumbu pecel yang pas menjadi andalan dari tempat makan yang satu ini, bumbu kacangnya memang menyajikan cita rasa manis dan pedas yang terpadu secara sempurna sehingga membuat candu buat banyak orang, termasuk saya :) Hampir tidak pernah perjalananku ke Jogja dilewati tanpa mampir ke tempat ini. Buat temennya, kita bisa memilih berbagai gorengan, mulai dari tempe, tahu, kerupuk gendar, kerupuk aci, telor ceplok, bakwan dan lain sebagainya. Favorit saya sih telor ceplok, paling pas beradu dengan bumbu pecel...



Selain sego pecel, SGPC Bu Wiryo ini juga menyediakan makanan utama lainnya yaitu Nasi Sop. Sop dengan bihun, wortel, kentang dan sayuran lainnya. Kita juga bisa memilih "topping" sop ini seperti bayam dan daging. Rasanya, seger banged masss... Rempah-rempah asli memang membuat rasa masakan ini menjadi kaya. Gak kaya sop biasa lah :)

Oh ya, harga makanan disini benar-benar bersahabat dengan kantong, saya gak tau harga per itemnya. Tapi saya makan berdua dengan rincian sebagai berikut:
- 1 Nasi Pecel
- 1 Nasi Sop Daging
- 1 Telur Ceplok
- 5 buah gorengan (tahu dan tempe)
- 1 Juice Tomat
- 1 Teh Manis
Total : Rp. 27.000,00. Murah kan?

"Melayani di UGM sejak 1959", demikian tagline yang tertulis di papan nama rumah makan ini. Ya, pernah saya baca di Kompas, tempat makan ini memang menjadi salah satu tempat makan favorit para mahasiswa UGM karena terletak di kawasan kompleks UGM, tepat di pinggir selokan Mataram. Bahkan karena ketika bayar dituntut kejujuran si konsumen, kadang kala mahasiswa yang kantongnya pada kempes ini pada nyatut, alias Darmaji (dahar lima ngaku siji). Tapi Bu Wiryo tidak ambil pusing karena mengerti kondisi ekonomi mahasiswa-mahasiswa tersebut. Hal ini berbuah ketika mereka semua sudah jadi orang, dan kembali ke tempat Bu Wiryo ini untuk "membayar hutang" nya di masa lalu. Mempertahankan nuansa ndesonya, masuk ke tempat makan ini kita disajikan dengan nuansa kampung dengan lantai, bangku dan meja "tempo doeloe" diiringi musik hidup akustik yang banyak membawakan lagu-lagu tempo doeloe juga. Makan disini benar-benar membawa kita di alam kesadaran bahwa: "Ya, kita lagi di Jogja" :))
Reading Time:

@way2themes