January 2007 - Wisata Kuliner Indonesia

Wednesday, January 31, 2007

Kuliner 02 – Rujak Cingur Cafesera Surabaya
January 31, 2007 6 Comments

Dari Singkawang, perjalanan dilanjutkan ke Semarang. Transit sebentar di Bandara Soekerno Hatta, sore itu juga (tanggal 26 Nov 06) saya melanjutkan perjalanan ke Semarang. Tetapi sayang, saya tidak bisa mampir-mampir mencari tempat makan di kota Lumpia ini karena datang sudah malam dan saya langsung ke rumah kakak saya yang memang berdomisili di Semarang. Dan besoknya, setelah acara saya langsung mengejar pesawat pulang kembali ke Jakarta.

Hari Selasa (28 Nov) subuh-subuh saya sudah ada di Bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke Surabaya. Hitung-hitung, setelah selesai acara saya masih punya waktu untuk jalan-jalan cari makanan sebelum kembali ke Jakarta sore harinya. Kemudian saya kontak teman saya, Rahmat Candrasuci, yang bekerja di United Tractors Surabaya untuk nemenin saya jalan-jalan.

Setelah bingung mencari tempat makan, akhirnya saya dibawa ke Cafesera, tepatnya di Jalan Polisi Istimewa. Banyak sekali menu yang tersedia di tempat ini, tetapi saya memilih yang khas Surabaya tentunya. Apalagi kalau bukan Rujak Cingur . Sudah lama tidak makan Rujak Cingur karena susah mencari teman yang sama-sama suka menikmati makanan "hidung sapi" ini :-)

Porsi yang cukup besar, sempat membuat saya berpikir, bisa gak ya ngabisinnya? Soalnya saya baru saja makan siang di tempat acara. Tetapi gak tau karena enak atau emang dasarnya hobi makan (baca : rakus)) dalam sekejap rujak cingur di hadapan saya tinggal tersisa sedikit bumbu yang menempel di piringnya. Ueenak tenan…. Tidak rugi waktu yang sedikit ini saya manfaatkan untuk wisata kuliner. Apalagi makannya gratisan karena ditraktir Mas Rahmat :-). Thx pren...
Score (1-10):
Rujak Cingur Cafesera : 7,5

Reading Time:
Kuliner 01 - Singkawang (Cah Pakis Hutan & Pengkang)
January 31, 2007 3 Comments
Pekerjaan yang saya geluti ternyata telah membawa saya berjalan-jalan ke beberapa daerah. Ditambah dengan minat yang besar terhadap makanan, membuat saya terpikir untuk menuliskan sekedar coret2an untuk tempat2 makan yang saya kunjungi. Sangat disayangkan ide ini agak terlambat, baru kepikiran ketika makan di RM Rosya Kebumen (27 Jan 07). Padahal sejak 2005 sudah banyak daerah yang saya kunjungi, seperti Gorontalo, Karang Asem, Ambon dan lain-lain. Dan tentu saja, di beberapa daerah yang saya kunjungi, saya berusaha meluangkan waktu untuk mencicipi makanan khas atau tempat makan yang direkomendasikan di daerah tersebut. Tapi ya, better late than never kan? Walaupun tulisan ini tidak "seindah" ulasan Bapak Bondan Winarno di tulisan-tulisan serta acara kulinernya TransTV, tapi tidak ada salahnya kan mencoba sharing, siapa tau dapat menjadi referensi buat temen2 yang punya hobi makan seperti saya. Dan dengan sangat sangat menyesal untuk tulisan2 awal ini saya tidak dapat menampilkan foto-fotonya, karena itu tadi, ide untuk menulis tentang "wisata kuliner" ini muncul terlambat. Untuk tulisan pertama ini, saya akan menuliskan "pengalaman makan" saya di Singkawang (Kalimantan Barat), yang terkenal dengan julukan"Kota Seribu Kuil" karena di setiap sudut kota kita bisa melihat bangunan vihara.

Perjalanan saya ke Singkawang diajak oleh Direktorat Pemberdayaan Telematika, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk mengisi ceramah tentang IT dalam rangka Pembukaan Community Access Point (CAP) bantuan dari Depkominfo yang diberikan kepada Forum Rembug Tionghoa Indonesia (Fortindo). Tapi saya tidak akan membahas acaranya, tapi makanan yang disajikan. Di Singkawang, pertama-tama saya disuguhi makanan khas daerah itu yaitu Cah Pakis Hutan. Pakis hutan ini sangat enak, renyah seperti batang kangkung tetapi tidak alot sama sekali. Walau hanya dengan bumbu seperti cah kangkung biasa, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali ke meja prasmanan dan menuangkan kembali sayur ini ke piring saya. Konon, Pakis Hutan ini diambil langsung dari hutan dan tidak dibudidayakan. Pernah ada yang mencoba membudidayakan tetapi tidak berhasil.
Dalam perjalanan Singkawang menuju Pontianak, saya bersama tim diajak untuk mampir untuk mencicipi makanan khas daerah itu yang disebut Pengkang. Menyerupai lemper, tetapi bentuknya segitiga, dijepit oleh bambu dan dimasak dengan cara dibakar. Berbeda dengan lemper, pengkang tidak memiliki daging ayam didalamnya tapi ada beberapa ebi (udang kecil) yang menempel di dalam ketannya. Rasanya sebenarnya biasa saja, bahkan menurut saya lebih enak lemper buatan kakak saya di Bandung :) Tapi ketika makan disana, kita ditawari sambel kerang untuk cocolannya. Nah ini yang mengangkat point dari makanan ini, sambal kerang bumbu kacang ini yang membuat rasanya menjadi "mantaabbb" (seperti yang juga saya utarakan ketika diwawancara tim Good News - Trans TV yang kebetulan hadir bersamaan waktunya dengan saya di tempat itu, lumayan masuk TV... :). Ada yang nonton gak ya???).

Score (skala 1-10) :

Cah Pakis Hutan : 8

Pengkang : 5

Pengkang + Sambal Kerang :7,5

Reading Time:

@way2themes